Hidden Paradise In Yogyakarta
Hello guys.. welcome back to my blogger.
Seperti biasa, aku akan share ke kalian about my travel experience. Kali ini aku mau explore suatu tempat di daerah Gunungkidul, Yogyakarta. Siapa sih yang gak tau Gunungkidul, tempat tujuan para wisatawan yang paling populer ketika berkunjung ke Yogyakarta.
Mungkin sebagian orang belum tau sama tempat yang mau aku explore ini. Hamparan bukit hijau, ditambah pemandangan biru laut dan batu karangnya begitu indah yang akan memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
Jadi perjalanan kali ini berawal karena lelahnya aktifitas pekerjaan, dan kegabutan dikala hari libur kerja hahaha. Jadi aku mencari teman untuk berlibur. Susah coy nyari teman yang dapet hari libur dihari yang sama. Kalian tau lah beda departemen sama beda peraturan juga yang pasti. Terus temanku yang lain juga pada sibuk sama kuliah mereka. Hmm~
Tapi akhirnya aku dapat teman perjalan kali ini(yeahh). Kebetulan dia juga libur kerja 3hari. Aku cuma sehari doang :')
Malamya kami mencari tempat tujuan buat besok yang mau kami explore. Opsi pertama mau main ke Solo, karena di sepanjang jalan kota Solo banyak sekali lampion ketika memperingati hari raya Imlek. Rencana aku sama temanku ke Solo naik pramex, tapi gak jadi ke Solo karena Pramex gak beroperasi sampai 24jam hahaha.
Opsi kedua ke Gereja Ayam dekat Borobudur Magelang, tapi gak jadi juga karena kurang mantep aja hahaha. Dan akhirnya kami browsing di internet dan kami menemukan tempat yang super cantik banget, masih jarang dijamah sama kaum Instagramer hahaha. Namanya adalah Banyutibo & Bukit Pengilon. Dan akhirnya aku sama temanku mencari tau tentang tempat wisata itu, bagaimana jalan menuju tempat itu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Banyutibo paginya.
6 February 2019. Janjian jam 7 berangkat, tapi berangkat jam 8, itu aja dijalan nanti masih mampir sarapan dulu hahaha.
Jam 10.30 WIB kami sampai di Pantai Siung. Loh kok pantai siung?
Ya, akses menuju ke Banyutibo lewatnya Pantai Siung, kami parkir di Pantai Siung kemudian kami harus trekking melewati bukit, persawahan, kebon, kandang sapi , pokoknya asik dan gak bakalan bosen :D
Oiya jangan takut kesasar karena ada petunjuk di setiap persimpangan. Seperti ini:
Sebelum kami melewati bukit ini, kami dikenakan biaya retribusi sebesar 3.000rupiah/ orang. Tiga kali kita harus bayar retribusi ini. Pertama dari Pantai Siung waktu naik bukit pertama, yg kedua ketika akan memasuki kawasan Banyutibo, dan yang ketiga ketika memasuki kawasan Bukit Pengilon. Jadi totalnya Rp.9000/ orang.
Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang cantik banget. Walaupun selama perjalanan kepanasan dan melelahkan. Tapi itu semua akan terbayar dengan keindahan yang ada didepan mata hahaha
Menurut ku tempat ini belum terlalu populer ya, buktinya aku buat story di Instagram dan WhatsApp banyak yang bertanya "Dave itu dimana?" hahaha. Untuk menjawab pertanyaan kalian nih aku tulis diblog ini :D
Setelah trekking, kepanasan, kehausan, keringetan, akhirnya sampai juga di Banyutibo. Kata Banyutibo diambil dari bahasa Jawa yang artinya Banyu itu air, dan tibo itu jatuh. Jadi Banyutibo adalah air yang jatuh / Airterjun. sampai dikawasan Banyutibo kami langsung berada di atas air terjunnya, karena air tidak terlalu deras jadi tidak perlu takut terpeleset atau jatuh, tapi tetap hati-hati ya.
Tidak perlu kuwatir jika kalian merasa haus atau lapar setelah melakukan trekking yang sangat melelahkan, karena didekat air terjunnya ada rumah warga yang menjual aneka makanan dan minuman.
Setelah puas menikmati keindahan Banyutibo. Akhirnya kami melanjut perjalanan menuju Bukit Pengilon, yang letaknya tidak begitu jauh dari Banyutibo
Jalanan dari Banyutibo menuju Bukit Pengilon adalah jalan favorit aku, karena jalan dipinggiran tebing dan menurutku ini mirip di Switzerland atau Iceland hahaha (lebay)
Nah setelah melewati tebing ini. Ada spot foto bagus banget. Mirip Kelingking Beach, Nusa Penida, Bali.
Gimana? Menarik bukan? Do you interested to visit this beautiful place, guys?
Setelah trekking kurang lebih 15menit akhirnya sampai di Bukit Pengilon, our final destination. Yeay~
Sesampainya di Bukit Pemgilon mungkin kalian akan bertemu dengan simbah-simbah, aku lupa siapa namanya. Dia penjaga disana, orangnya baik, ramah. Saya ngobrol dengan simbahnya disana boleh ngecamp, tapi harus izin sama penjaga yang ada disana, izin sama simbahnya juga bisa. Nanti akan dikenakan biaya jika mau ngecamp disana tergantung ukuran tenda yg kalian gunakan, kalau tenda kecil untuk 2-4 orang sekitar Rp.20.000/ tenda kecil. Terus disana boleh buat api unggun dengan syarat harus pakai drum yang sudah disediakan disana. Disana juga sudah ada kayu bakar juga, jadi kalian tinggal beli sama simbahnya.
Oiya kata simbah-simbah yang jaga disitu. Ada menara di utara bukit ini. Kami pun penasaran ingin melihat menara yang dimaksud simbah. Akhirnya kami pergi untuk mencari menara yang dimaksud simbah itu. Kata simbahnya petunjuknya adalah "botol bekas". Dan akhirnya kami pun pergi mencari menara itu. Untuk menuju menara itu kami harus naik bukit lagi. Sungguh cuaca panas dan melelahkan guys.
Setelah naik bukit dan mengikuti petunjuk botol bekas. Kami tidak melihat menara yang dimaksud simbahnya. Akhirnya kami tidak melanjutkannya karena capek, dan tempatnya juga sepi, gak ada orang sama sekali. Tapi pemandangan dari atas sini bagus banget btw. Ini foto yang sempat aku ambil dari atas bukit:
Mungkin sebagian orang belum tau sama tempat yang mau aku explore ini. Hamparan bukit hijau, ditambah pemandangan biru laut dan batu karangnya begitu indah yang akan memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
Jadi perjalanan kali ini berawal karena lelahnya aktifitas pekerjaan, dan kegabutan dikala hari libur kerja hahaha. Jadi aku mencari teman untuk berlibur. Susah coy nyari teman yang dapet hari libur dihari yang sama. Kalian tau lah beda departemen sama beda peraturan juga yang pasti. Terus temanku yang lain juga pada sibuk sama kuliah mereka. Hmm~
Tapi akhirnya aku dapat teman perjalan kali ini(yeahh). Kebetulan dia juga libur kerja 3hari. Aku cuma sehari doang :')
Malamya kami mencari tempat tujuan buat besok yang mau kami explore. Opsi pertama mau main ke Solo, karena di sepanjang jalan kota Solo banyak sekali lampion ketika memperingati hari raya Imlek. Rencana aku sama temanku ke Solo naik pramex, tapi gak jadi ke Solo karena Pramex gak beroperasi sampai 24jam hahaha.
Opsi kedua ke Gereja Ayam dekat Borobudur Magelang, tapi gak jadi juga karena kurang mantep aja hahaha. Dan akhirnya kami browsing di internet dan kami menemukan tempat yang super cantik banget, masih jarang dijamah sama kaum Instagramer hahaha. Namanya adalah Banyutibo & Bukit Pengilon. Dan akhirnya aku sama temanku mencari tau tentang tempat wisata itu, bagaimana jalan menuju tempat itu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Banyutibo paginya.
6 February 2019. Janjian jam 7 berangkat, tapi berangkat jam 8, itu aja dijalan nanti masih mampir sarapan dulu hahaha.
Jam 10.30 WIB kami sampai di Pantai Siung. Loh kok pantai siung?
Ya, akses menuju ke Banyutibo lewatnya Pantai Siung, kami parkir di Pantai Siung kemudian kami harus trekking melewati bukit, persawahan, kebon, kandang sapi , pokoknya asik dan gak bakalan bosen :D
Oiya jangan takut kesasar karena ada petunjuk di setiap persimpangan. Seperti ini:
Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang cantik banget. Walaupun selama perjalanan kepanasan dan melelahkan. Tapi itu semua akan terbayar dengan keindahan yang ada didepan mata hahaha
Menurut ku tempat ini belum terlalu populer ya, buktinya aku buat story di Instagram dan WhatsApp banyak yang bertanya "Dave itu dimana?" hahaha. Untuk menjawab pertanyaan kalian nih aku tulis diblog ini :D
Setelah trekking, kepanasan, kehausan, keringetan, akhirnya sampai juga di Banyutibo. Kata Banyutibo diambil dari bahasa Jawa yang artinya Banyu itu air, dan tibo itu jatuh. Jadi Banyutibo adalah air yang jatuh / Airterjun. sampai dikawasan Banyutibo kami langsung berada di atas air terjunnya, karena air tidak terlalu deras jadi tidak perlu takut terpeleset atau jatuh, tapi tetap hati-hati ya.
Tidak perlu kuwatir jika kalian merasa haus atau lapar setelah melakukan trekking yang sangat melelahkan, karena didekat air terjunnya ada rumah warga yang menjual aneka makanan dan minuman.
(Foto diatas air terjun)
Setelah puas menikmati keindahan Banyutibo. Akhirnya kami melanjut perjalanan menuju Bukit Pengilon, yang letaknya tidak begitu jauh dari Banyutibo
Jalanan dari Banyutibo menuju Bukit Pengilon adalah jalan favorit aku, karena jalan dipinggiran tebing dan menurutku ini mirip di Switzerland atau Iceland hahaha (lebay)
(Switzerland van Jogja)
Nah setelah melewati tebing ini. Ada spot foto bagus banget. Mirip Kelingking Beach, Nusa Penida, Bali.
(Mirip Kelingking Beach Nusa Penida, Bali)
Gimana? Menarik bukan? Do you interested to visit this beautiful place, guys?
Setelah trekking kurang lebih 15menit akhirnya sampai di Bukit Pengilon, our final destination. Yeay~
Sesampainya di Bukit Pemgilon mungkin kalian akan bertemu dengan simbah-simbah, aku lupa siapa namanya. Dia penjaga disana, orangnya baik, ramah. Saya ngobrol dengan simbahnya disana boleh ngecamp, tapi harus izin sama penjaga yang ada disana, izin sama simbahnya juga bisa. Nanti akan dikenakan biaya jika mau ngecamp disana tergantung ukuran tenda yg kalian gunakan, kalau tenda kecil untuk 2-4 orang sekitar Rp.20.000/ tenda kecil. Terus disana boleh buat api unggun dengan syarat harus pakai drum yang sudah disediakan disana. Disana juga sudah ada kayu bakar juga, jadi kalian tinggal beli sama simbahnya.
(Simbah yang jaga di Bukit Pengilon)
Setelah naik bukit dan mengikuti petunjuk botol bekas. Kami tidak melihat menara yang dimaksud simbahnya. Akhirnya kami tidak melanjutkannya karena capek, dan tempatnya juga sepi, gak ada orang sama sekali. Tapi pemandangan dari atas sini bagus banget btw. Ini foto yang sempat aku ambil dari atas bukit:
Setelah kami puas melihat pemandangan dari atas bukit ini, dan tidak menemukan menara yang dimaksud oleh simbah. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali turun ke Bukit Pengilon dan istirahat sejenak.
Setelah istirahat kami memutuskan untuk pulang.
Oiyaa waktu perjalan pulang kami melihat segerombolan monyet dibawah air terjun Banyutibo. Jarang banget dapet moment seperti ini, tapi lupa aku foto hehe
Well, okay guys terima kasih sudah mampir di blogger aku. Maaf jika masih ada banyak salah dalam penulisan, bahasa, dll. Komen tentang opini kalian di kolom komentar ya hahaha. Semoga bermanfaat :D
TIPS:
-Jika kalian ingin ke Banyutibo dan Bukit Pengilon. Aku saranin pakai Sunblock biar kulit tidak terbakar seperti aku.
-Pergilah kesana waktu musim hujan. Karena bukit terlihat lebih hijau.
Find me on Instagram: @davidendru_
Have a great journey,
David Endru Christianto























